Pellet bahan bakar bio yang dibuat dari kotoran kuda akan membantu menghasilkan listrik buat barak baru Royal Horse Artillery. Jerami dan limbah yang didaur ulang dari 111 kuda resimen itu akan menyediakan cukup energi rendah karbon untuk menggerakkan peralatan listrik dan pemanas buat upacara di pangkalan baru satuan tersebut di Woolwich, London tenggara. Tindakan tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkesinambungan pemerintah untuk pangkalan masa depan resimen berkuda.
Wednesday, July 14, 2010
Monday, June 28, 2010
Pembangunan dengan Tenaga Matahari dan Kincir Angin
Pemerintah mengujicobakan pembangunan kampung berenergi alternatif menggunakan tenaga matahari dan kincir angin. Kementrian Negara Riset dan Teknologi menghabiskan dana Rp 3 miliar yang diperoleh dari pemkab Bantul, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, UGM, E-Wind Energy, dan MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia) sehingga total mencapai Rp 5 miliar.
Prototipe energi listrik hibrid memanfaatkan kincir angin dan panel surya di kampung nelayan Pandansimo itu dirancang dengan komposisi kapasitas turbin 10 kilowatt sebanyak 1 buah, 2 kilowatt sebanyak 5 buah, dan 1 kilowatt sebanyak 38 buah, serta panel surya 17,5 kilowatt dengan aki cadangan 2 x 20 x 12 V 200 AH dan keluaran standar 220 Volt AC dan akan dilengkapi inverter. Output yang dihasilkan dari sistem itu adalah listrik sebesar 75,5 kilowatt terdiri dari 58 kilowatt dari kincir angin dan 17,5 kilowatt dari panel surya.
Pengembangan Energi Hibrid tersebut dapat dimanfaatkan untuk produksi es balok dengan kapasitas 1.000 kg per hari untuk memenuhi kebutuhan es untuk nelayan, pemompaan air sumur renteng untuk mengairi pertanian terutama pada musim kemarau, serta penerangan jalan kampung.
Labels:
daya listrik,
hibrid,
kincir angin,
solar panel
Monday, June 7, 2010
Kayu Borneo Menghasilkan Listrik
Kayu borneo merupakan hasil uji kayu yang terbaik melalui gasifikasi dan mengandung karbon 55,59 persen, karbondioksida 42,90 persen, metana 1,14 persen, etana 0,299 persen, propana 0,075 persen, energi pembakaran yang dihasilkan 27,22 kilowatt dan konsumsi kayu spesifik 1,98 kg/kWh. Kayu hasil gasifikasi dicampur 60% solar, 40% gas dengan berguna sebagai bahan bakar genset dengan mesin diesel maupun gas engine untuk menghasilkan listrik 6 kWh selama 4,5 jam atau setiap kWh listrik perlu 1 kg kayu. Dalam penerapan di daerah terpencil, membutuhkan biaya investasi 66,339 juta rupiah yang mampu menyediakan daya nominal pada terminal generator 8 kW selama 6.000jam per tahun. Jika untuk penerangan rumah, jika setiap rumah membutuhkan 100 watt ampere, maka suplai generator 8 kW dapat menerangi 8.000 rumah.
Limbah Cair Menghasilkan Energi Listrik
Perkebunan sawit berpotensi sebagai penghasil energi listrik dari limbah cair yaitu dengan teknologi biodigestor (anaerobic technology), limbah cair bisa menghasilkan biogas yang bermanfaat untuk menghasilkan listrik dan sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia sesuai dengan iklim tropis. Indonesia menjadi produsen terbesar minyak sawit (Crude PalzmOil/CPO) di dunia dengan volume 27 juta ton dan luas mencapai 7,12 juta hektar (ha). Dari total kapasitas 16 ribu ton Tandan Buah Segar (TBS)/jam mampu menghasilkan 8.800 m3 limbah cair. Pengelolaan limbah yang cukup mahal juga menjadi cost bagi perusahaan jadi cara lainnya adalah menjadikan limbah sebagai bahan baku biogas.
Thursday, May 20, 2010
Sumber Listrik dari Kotoran Babi
Babi bisa berguna bagi masyarakat Belanda untuk menjadi sumber listrik dengan memanfaatkan kotoran yang mengandung gas metana yang tinggi yang diolah menjadi bahan bakar dan diperlukan 2700 babi kemudian proses dilakukan di Pusat Penelitian Sterksel, Belanda. Listrik dari kotoran tersebut dapat memenuhi 150 rumah dan mencapai 5.000 MW per tahun.
Pengolahannya sederhana yaitu kotoran babi diletakkan dalam wadah yang dihubungkan dengan tabung-tabung raksasa yang bisa menampung 4000 kubik cairan kemudian dicampur dengan sampah organik dan beberapa bakteri penghancur lalu akan menghasilkan gas yang bisa menjadi sumber listrik. Sumebr listrik ini ramah lingkungan karena selain memanfaatkan kotoran babi dalam proses pembuatannya juga menggunakan sampah organik.
Tuesday, May 18, 2010
Kulit Pisang dan Jeruk Menyimpan Tegangan Listrik
Penelitian seorang guru Wasis Sucipto, S.Pd Guru SMAN 1 Wanadadi Banjarnegara membuktikan bahwa sentuhan tangan pada limbah kulit pisang dan kulit jeruk bisa dimanfaatkan menggantikan batu baterai. Pertama kulit pisang dan jeruk di buat jus, atau dihancurkan atau aduk hingga halus kemudian dicampur dengan air secukupnya. Lalu mengambil gelas kimia untuk menghasilkan sel elektrokimia dan larutan jus dimasukkan dalam gelas tersebut. Kemudian dibuat elektroda-elektroda yang terbuat dari Cu dan Zn.
Tembaga dan seng disambung dengan kabel kemudian dibantu dengan tutup dari gabus dibuat variasi biar kelihatan menarik. Satu sel adalah satu wadah atau satu gelas kimia yang berisi 2 elektroda dan 1 tutup. Selanjutnya ukur V dan I nya, V= Voltase, I= Amper setelah itu di aplikasikan atau dihubungkan kabel tersebut dengan benda percobaan. Aplikasi yang paling sederhana dan mudah diamati adalah kalkulator dan jam digital, begitu disambungkan ternyata kalkulator dan jam tersebut bisa hidup normal seperti dihubungkan pakai batu baterai.
Tembaga dan seng disambung dengan kabel kemudian dibantu dengan tutup dari gabus dibuat variasi biar kelihatan menarik. Satu sel adalah satu wadah atau satu gelas kimia yang berisi 2 elektroda dan 1 tutup. Selanjutnya ukur V dan I nya, V= Voltase, I= Amper setelah itu di aplikasikan atau dihubungkan kabel tersebut dengan benda percobaan. Aplikasi yang paling sederhana dan mudah diamati adalah kalkulator dan jam digital, begitu disambungkan ternyata kalkulator dan jam tersebut bisa hidup normal seperti dihubungkan pakai batu baterai.
Tuesday, May 11, 2010
Turbin Hidrologi Penghasil Listrik
Pak Linggi berusaha menciptakan sebuah turbin pembangkit listrik bertenaga air sungai untuk kecamatan Sumorarang Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat. Turbin tersebut merupakan satu-satunya turbin yang tidak menggunakan silk di seluruh dunia dengan biaya yang dikeluarkan kurang dari Rp 50 juta. Mesin mikrohidro itu penyediaan tiga turbin yang diposisikan pada bibir sungai yang sangat potensial untuk pembangkitan listrik, kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 200 kepala keluarga yang berada di Dusun Kolong Lau, Minaga, Tatte, Salubongin, Desa Batang Uru, dan sekitarnya dalam wilayah Kecamatan Sumarorong Mamasa.
Tenaga yang dihasilkan bergantung pada debit dan sudut ketinggian aliran air Sungai Batang Uru dapat memasok listrik 10 sampai 50 kilowatt pada setiap desa. Tiga turbin itu, masing-masing memiliki kekuatan 30 kilowatt, 80 kilowatt, dan 6 kilowatt serta dua turbin cadangan yang disimpan di rumah Linggi di Dusun Salubongin.
Labels:
air sungai,
daya listrik,
turbin hidrologi
Subscribe to:
Posts (Atom)